Memiliki sahabat tentu menyenangkan. Namun, kita mesti memahami bahwa sahabat itu saling mengerti, bukan diam-diam menyakiti.
Manusia memang tidak bisa hidup sendiri. Karena sudah fitrahnya manusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial. Karena itu, seseorang perlu orang lain untuk tetap tegar menjalani hidup.
Memiliki sahabat, ialah suatu kebutuhan bagi seseorang. Karena dengan adanya sahabat, seseorang memiliki tempat berbagi.
Namun, tidak semua orang mendapatkan sahabat sejati. Ada yang katanya sahabat, tetapi nyatanya memberi perih.
Katanya sahabat, tetapi diam-diam menebar jerat yang membuat diri hampir sekarat. Katanya sahabat, tetapi diam-diam menebar duri sehingga ngilu tak terperi.
Katanya sahabat, tetapi diam-diam memberi luka tak berdarah sehingga sungguh payah terasa.
Katanya sahabat, tetapi diam-diam membeberkan aib diri kepada orang-orang. Padahal, berani menceritakan aib diri kepadanya karena percaya dia seorang sahabat.
Percaya bahwa sahabat takkan berkhianat. Karena sahabat itu sejatinya saling mengerti, bukan diam-diam menyakiti.
Sahabat itu saling mengerti, bukan diam-diam menyakiti. Memberi sakit yang tak terperi.
Bagaimana tidak, orang yang selama ini dipercaya ternyata memberi luka. Bila bukan dia yang disebut sahabat yang memberi luka, mungkin sakitnya tak separah ini. Tetapi apa daya, dia yang dipercaya malah merusak jiwa.
Bila memang tak mau menjadi sahabat, mengapa tak katakan saja. Bila memang tak sudi jadi sahabat, mengapa tidak menyampaikan sejak semula.
Agar diri tak terlanjur percaya. Lalu menceritakan segala kisah. Suka duka tak ada yang dirahasiakan.
Kini, saat semua cerita telah kubagi, kau malah diam-diam menyakiti. Padahal, sahabat itu saling mengerti, bukan diam-diam menyakiti.
Meski sakit yang kau beri, aku tak akan membenci. Terima kasih atas luka yang kau beri wahai sahabat.
Biarlah ini jadi pelajaran hidup bagiku yang naif ini. Agar ke depan, aku tak lagi terjebak dengan sahabat yang palsu.
Sahabat yang bukannya saling mengerti, tetapi malah diam-diam menyakiti.
Manusia memang tidak bisa hidup sendiri. Karena sudah fitrahnya manusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial. Karena itu, seseorang perlu orang lain untuk tetap tegar menjalani hidup.
Memiliki sahabat, ialah suatu kebutuhan bagi seseorang. Karena dengan adanya sahabat, seseorang memiliki tempat berbagi.
Namun, tidak semua orang mendapatkan sahabat sejati. Ada yang katanya sahabat, tetapi nyatanya memberi perih.
Katanya sahabat, tetapi diam-diam menebar jerat yang membuat diri hampir sekarat. Katanya sahabat, tetapi diam-diam menebar duri sehingga ngilu tak terperi.
Katanya sahabat, tetapi diam-diam memberi luka tak berdarah sehingga sungguh payah terasa.
Katanya sahabat, tetapi diam-diam membeberkan aib diri kepada orang-orang. Padahal, berani menceritakan aib diri kepadanya karena percaya dia seorang sahabat.
Percaya bahwa sahabat takkan berkhianat. Karena sahabat itu sejatinya saling mengerti, bukan diam-diam menyakiti.
Sahabat itu saling mengerti, bukan diam-diam menyakiti. Memberi sakit yang tak terperi.
Bagaimana tidak, orang yang selama ini dipercaya ternyata memberi luka. Bila bukan dia yang disebut sahabat yang memberi luka, mungkin sakitnya tak separah ini. Tetapi apa daya, dia yang dipercaya malah merusak jiwa.
Bila memang tak mau menjadi sahabat, mengapa tak katakan saja. Bila memang tak sudi jadi sahabat, mengapa tidak menyampaikan sejak semula.
Agar diri tak terlanjur percaya. Lalu menceritakan segala kisah. Suka duka tak ada yang dirahasiakan.
Kini, saat semua cerita telah kubagi, kau malah diam-diam menyakiti. Padahal, sahabat itu saling mengerti, bukan diam-diam menyakiti.
Meski sakit yang kau beri, aku tak akan membenci. Terima kasih atas luka yang kau beri wahai sahabat.
Biarlah ini jadi pelajaran hidup bagiku yang naif ini. Agar ke depan, aku tak lagi terjebak dengan sahabat yang palsu.
Sahabat yang bukannya saling mengerti, tetapi malah diam-diam menyakiti.
